Tampilkan postingan dengan label Pada Bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pada Bumi. Tampilkan semua postingan

Hening Ladang ini




ketika aku terjaga malam ini.. kudengar mereka tak lagi riuh memainkan selendang "Dewi" diantara benih buliran hidup.. hanya kesunyian merangkulnya dengan hentak jantung sang gerimis yang berdenyut lemah.. bahkan tak terdengar oleh makhluk kecil penghuninya yang slalu merindukan hadirnya.. Sekilas tampak olehku airmatanya mengalir menyiram senyum seorang tua dengan selaksa harap.. dan menanyakan arti cinta bumi pada lembaran musim akhir..

aku berbisik lembut pada angin utara yang terlihat sombong disinggasananya.. mengapa kau menidurkan buliran embun dipangkuanmu..? mengapa tak kau biarkan tetesan2nya menyapa pagi.. ? Dengan angkuhnya dia menjawab.. ini adalah kehendakNya.. mengapa kau bertanya seperti itu sedangkan sang Fajar selalu menyapamu dengan senandung Cinta..

hmm.. lagi2 aku menemukan kata "Cinta" pada kerdilnya pengetahuanku tentang hidup.. aku hanya diam dikursi kayu ini,, kutiupkan nafasku pada pucuk bunga dihadapanku.. Dan samar ku dengar pekikan2 keperkasaan sang musim melumat nyanyian2 penghuni hening ladang ini..


12 Agustus 2011 jam 2:34
BACA SELENGKAPNYA →

Kidung


riuh kidung rimba memanggil nadiku..
mengajak menari di hamparan edelweis..
mengalir tenang di riak sungai batu..
mengayun mesra di pucuk pohon pakis..

aku hanya terdiam di sini..
tergeming di lembar waktu..
mengais asa memikul hidup..
berpijak letih dirapuh bumi..


24 Juli 2010 jam 12:44
BACA SELENGKAPNYA →

Mengikuti Resah Angin



kubertanya pada arah mata hembusannya..

tentang seribu bisik ladang disana..
rumput berkelit lepas diterpa belainya..
burung berdecit enggan dilembut buainya..

andai bisa kudendangkan nadamu..
tentu gundah jiwa kan bersamamu..
parau gitarku tak lepaskan sahajamu..
mengalun mengikuti tungkai nadimu..

kuikuti kemana arah mata hembusanmu..
menukik dalam ke tebing masa depanku..
kuikuti kemana arah mata hembusanmu..
mengusap airmata dilembah kegelapanku..

kucoba diam hening dipersimpangan malam..
hanya wangi bintang tersedak dikegaduhan..
menggeram lemah ditepi batas kesadaran..
mencoba terlepas dari cengkraman kenaifan..

sejukmu hanyutkan semua lebur mimpi..
kala mentari Fajar diufuk bumi esok pagi..

31 Maret 2010 jam 00:31
BACA SELENGKAPNYA →

Kidung Malam diPesisir Dusun



bulan bersinar angkuh menyinari keheningan...

hembusan angin timur tersipu lalui kegalauan...
riuh bisik jangkrik membelah kesunyian...
lantunan desir nyiur mengiring kesendirian...

langit utara masih murka...
melaknat bintang dengan kilatnya...
menutupi sisi indah malam-Nya...
terdiam bisu dalam amarahnya...

duduk termenung kunikmati semua...
nyanyian dan lukisan alam raya...
sang Pangeran Sejati-pun tersenyum...
mendengar kidung malam di pesisir dusun...

29 Januari 2010 jam 22:02
BACA SELENGKAPNYA →

Senandung Awan Putih Biru



aku yang sejenak tertegun menatapmu..

kau menulis biru dengan lembut putihmu..
kau mencari rentang hati di kosong waktu..
dan menghunus bimbang dengan tatapanmu..

aku yang mematung di bumi renta ini..
kau yang berjalan diatas jurang kejujuran..
kau merayap dibawah garis keangkuhan..
dan menelan pahit bentangan pilu kejadian..

ku mencium aroma ketulusan diderapmu..
seakan ingin tunjukkan setia nafas angin..

kuresapi seribu buih kesucian dirautmu..
membasuh menjadi satu diujung syukur diri..

aku yang menyusuri serpihan siang disini..
ikut bersenandung dengan awan putih biru..

6 April 2010
BACA SELENGKAPNYA →

Sajadah Jingga



sajadah jingga tersempal disenja tadi..

langit menyilahkan angin memapahnya..

gunung Karang terdiam bisu diistananya..
bermahkotakan sebutir musim dikepalanya..

lambat berlalu..


Sajadah jingga tersempal disenja tadi..
menyeruak letih sebelum berkumandang..

heningkan panas yang terpasung sunyinya..
bangunkan nurani yang terkekang terangnya..

hilang pada waktu..


Sajadah jingga tersempal disenja tadi..

17 Maret 2010 jam 18:10
BACA SELENGKAPNYA →