Tampilkan postingan dengan label Pada Negri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pada Negri. Tampilkan semua postingan

Sajak Dasi Abu-abu (Wakil Rakyat)


engkaukah itu wahai dasi abu-abu? yang tertawa lepas, selepas para tertawaan anak-anak melihat aksi para badut, ketika sarman menangis karena tak mampu membelikan susu untuk anaknya semenjak ia menganggur..

engkaukah itu wahai dasi abu-abu? yang berbisik-bisik tentang ratusan proyek fiktif yang terhampar disepanjang jalan pedalaman Banten.. yang ketika melewatinya, aku bahkan tak sanggup untuk memandang ulang arah sebaliknya..

engkaulah para terpilih itu wahai dasi abu-abu.. yang pernah menjanjikan api menjadi sedingin embun.. yang mampu menjanjikan hitam lautan serupa bianglala surga.. juga yang berjanji atas nama Tuhan untuk segala warna rambut yang memilihmu..

engkaulah juga para terpelajar itu wahai dasi abu-abu.. yang mampu menyimpan ijasahmu dalam lemari kesombongan.. yang mampu melipat hartamu dalam istana keserakahan.. dan yang mampu menundukkan kepalamu dalam jeratan kepongahan..

lihatlah sekali lagi wahai dasi abu-abu.. sudahkah engkau mencuci legam kotornya baju kami, ketika kami dikhianati oleh hujaman lumpur pembodohan?

kami rasa tidak..

engkaulah para pembodoh itu..

pembodoh yang tidak merasa bodoh ketika engkau terpilih oleh orang-orang yang kau bodohi..

maaf..


20 Januari 2015; Jam 21:14
BACA SELENGKAPNYA →

Sajak GOLPUT



koruptor takut sama siapa?

dia tak takut dengan puisi hujatan..
tidak juga dengan sajak makian..
dia juga tak takut masuk bui..
apalagi dengan ayat-ayat Tuhan..

satu yang dia sangat takuti..
sangat ia musuhi dan dibully..
....

ia takut dengan puisi ajakan GOLPUT..
ia khawatir dengan sajak-sajak GOLPUT..
ia takut dengan organisasi GOLPUT..
apalagi kampanye massal mengajak GOLPUT..

dalil harampun ikut melaknat GOLPUT..
pasal-pasal hukum juga ikut dilobi..
agar GOLPUT menjadi basi..
agar bisa terus korupsi..
....

tak korupsi lagi bila tak terpilih..
itu hukum alam yang berlaku..

sebab generasi korup penggantinya..
siap duduk dibekas kursinya..
mengganti apa yang basah dikursinya..
begitulah seterusnya..

para pemilih hanya dikibuli politisi..

maka, GOLPUT adalah harga mati..
untuk memunculkan generasi anti korupsi..
...

► 1 Juli 2013; jam 1:30 ◄

terinspirasi setelah membaca sebuah artikel tanya-jawab tentang baik buruknya pilihan golput pada pemilu (wordpress). Dan melihat fakta terakhir dari data caleg pada pemilu legislatif 2014, yang 90,5%-nya diisi oleh muka-muka lama, yang sudah malang melintang dikancah hiburan politik dan Pengadilan di Indonesia (detik)
BACA SELENGKAPNYA →

Ondel-ondel dan Tukang Pisang




liat kote tue nyang mengkin belagu
ame geroyokan ondel-ondel gendut
nyang ngedeprok di lante licin dpr
sembari maenin duit gepokan

kite kaga dianggep ame die
cuman proyek nyang ade dikepale
engkong juned cuman bengong
liat ondel-ondel pake dasi

engkong ngelengos dari pager besinye
aye liat dagangannye masih ngejibun
kaga tau nasip entu pisang entarnye
laris manis atawa busuk kaye ondel-ondelnye


tanah Betawi 30 Juni 2012 | siang bolong
BACA SELENGKAPNYA →

Merdekalah Kita


merdeka bagi kami adalah ketika kami tak tahu harus bagaimana lagi menyapa orang orang kaya yang yang terlalu sibuk menumpuk uang.. sedangkan ia tahu kami tak pernah bosan menengadahkan tangan padanya untuk sekedar menunggu recehan dilemparkannya dengan ikhlas.. dan pada akhirnya lampu merahlah yang membuat kami merdeka..

merdeka bagi mereka adalah ketika mereka tiba dengan selamat disekolah setelah harus bertaruh nyawa menyebrangi sungai tak berjembatan dengan seutas tali seling.. sedangkan kami tahu aparat yang berwenang menontonnya ditelevisi flat terbaru dan pc tabletnya sambil bersenda gurau tentang proyek jembatan siluman yang akan digarap..

merdeka bagi kami adalah ketika "raksasa" hambalang berjalan lagi dan kami harus berpeluh kembali dengan adukan pasir dan semen serta dapat mengambil upah kerja kami ditiap akhir bulan.. semata mata hanya agar kami tak mendengar keluhan keluarga kami dengan ucapan.. kami lapar..

merdeka bagi kami adalah ketika kami bahagia melihat anak anak kami belajar dengan tekun di ruang kelas yang tak berbangku dan beratap bocor.. sedangkan kami tahu wakil wakil kami disana menyekolahkan anak anaknya di international school dengan mudah dan bangganya..

merdeka bagi kami adalah ketika kami akhirnya berobat di tabib tabib kampung setelah beberapa rumah sakit menolak keberadaan kami dengan alasan tak ada kamar kosong.. dan pada akhirnya surat miskin kami hanya menjadi penghias saku lusuh kami dan menjadi bahan tertawaan orang orang berjubah putih yang bergelar dokter,.

merdeka bagi kami adalah ketika kami dapat menjual murah kedelai dari hasil kebun kami kepada para tengkulak.. semata mata agar kami tak mengalami kerugian dari yang telah kami keluarkan untuk menanamnya.. sementara kami tahu harganya melambung bersama kedelai impor..

merdeka bagi kami adalah ketika sang merah putih berkibar dengan gagahnya dihati dan jiwa kami.. juga di pagar pagar bambu gubuk kami.. karena udara kemerdekaan juga milik kami.. lalu biarkanlah ibu pertiwi mendengar sajak sajak kami tentang negri ini.. negri para takabur.. negri untuk simakmur.. negrinya para sang tersakit yang dilupakan..

merdekalah kita semerdeka merdekanya..

MERDEKA!!


13 Agustus 2012; jam 21:48
BACA SELENGKAPNYA →

Nak.. Jangan Kau Pilih Pemimpin yang Jujur (curhatnya para tikus)



nak.. jangan kau pilih pemimpin yang jujur..
nanti kau tak bisa jajan di mall2 nak.. tak bisa sekolah diluar negri.. atau bisa jadi kita juga tak bisa menikmati liburan yang mewah serta shopping sesuka hati..

nak.. jangan kau pilih pemimpin yang jujur..
nanti bapakmu ini tak mempunyai "kesempatan".. bisnis bapak hancur.. relasi bapak dihukum.. atau bisa jadi bapak juga bisa masuk penjara..

nak.. jangan kau pilih pemimpin yang jujur..
"jatah" bapak bisa hilang nak.. bapak harus lagi mengais "sampah".. "meminta-minta", serta harus "menjilat" tuan baru lagi nak..

nak.. jangan kau pilih pemimpin yang jujur..


21 Juli 2012; jam 0:53
BACA SELENGKAPNYA →

Untuk Garuda dan Sang Saka


tuan..

lihatlah kami..
pernahkah tuan mendengar kami mengeluh hanya untuk sebungkus nasi yang belum mengisi lambung kami.. tak pernah tuan.. kami makan yang ada hari ini, sebagaimana kami dulu tuan.. kami lapar untuk negri, demi mimpi tanah pertiwi..
sedangkan tuan..
kami tersenyum untuk tuan.. ketika tuan tertidur di kursi empuk karena terlampau kenyang sehabis menyantap dan mereguk keringat kami..

tuan..
lihatlah kami..
kami masih ingat betapa sakitnya ketika peluru musuh menembus tubuh kami.. kami juga masih ingat betapa sakit itu tak kami hiraukan yang ada dalam benak kami adalah sebuah kalimat.. "Merdeka"..
sedangkan tuan..
kami tersenyum untuk tuan.. ketika tuan berkata.. betapa sakitnya negara karena korupsi yang merajalela dan tumbuh subur dinegri ini, sedangkan kami tahu bahwa tuan tuan berpesta pora setelah mengucapkannya..

tuan..
lihatlah kami..
disudut sudut kumuh gubuk kami masih bersemayam hiasan burung garuda lambang kebanggaan negri ini.. masih ada sang saka lusuh yang setia mengisi lemari kayu kami..
sedangkan tuan..
kami tersenyum untuk tuan.. ketika kami hanya melihat foto tentang kebanggaan tuan pada kekuasaan di istana tuan.. juga berapa banyaknya sang saka yang tergeletak lusuh di sudut gudang.. terbuang..

tuan..
kami bangga dengan semua yang telah kami berikan pada negri ini..
dan kami yakin, tuan juga bangga dengan apa yang sudah didapat dari negri ini..

24 Mei 2012; jam 10:50
BACA SELENGKAPNYA →

Empat Belas Tahun Kemudian


semestinya aku sudah disana bersama jaket almamaterku itu.. mempecundangi penguasa dengan selembar kertas dan kain berspidol dan ber cat atau sekedar mengumpat sambil terus mencari minuman segar yang kuhayalkan sebagai air zam zam di tengah hujatan dan umpatan, lalu berhadapan dengan tiran kekuasaan yang menggunakan tameng dan pemukul.. tapi ahh.. sudahlah.. Toh setidaknya aku telah lalui kemarin dan hari ini dengan kegeraman bersama kawan kawan dijalanan kota yang lain..

itu dulu.. empat belas tahun yang lalu..

saat saat itu penuh dengan ketegangan.. hari hari terlewati dengan mata dan telinga yang terus menancap di layar kaca tivi.. dan juga tak pernah lupa membaca koran tentang situasi terbaru, walau hanya meminjam dan membacanya di pedagang koran kaki lima.. tapi sungguh.. itu adalah saat saat yang penuh ketidak pastian, tentang negri ini yang katanya negri ber~swasembada dan ber~Repelita, serta dalam kondisi perekonomian yang aman dan terkendali..

itu dulu.. empat belas tahun yang lalu..

lidah kami masih terkunci saat itu.. tetapi ada sesuatu yang memaksa kami untuk bersuara pada kenyataan.. pada apa yang kami liat di kolong kolong jembatan kota, pada apa yang kami dengar dari orang orang yang "lemah" yang semakin tertindas.. walau kami tak memungkiri ada saja senyum dan gemerlap dari hijaunya sawah sawah petani yang menikmati pupuk bersubsidi, dari supir angkot yang menikmati BBM murah dan dari buruh pekerja yang tidak mengenal "Kontrak"

itu dulu.. empat belas tahun yang lalu..

saat itu kami sudah bosan dengan pidato kenegaraan di "gedung Hijau" yang menyatakan semua baik baik saja, yang ternyata harga harga semakin membumbung di jalanan.. bosan juga dengan sistem pemilu yang selalu memenangkan XXXXXX dengan cara apapun, intimidasi sudah menjadi santapan yang tampak tak lezat dimata kami.. dan kami terpaksa menelannya bulat bulat karena memang hanya itu yang ada.. "Pilihan" bagi kami sudah tidak lagi mempunyai pintu dan jendela..

itu dulu.. empat belas tahun yang lalu..

Lalu... apa yang terjadi empat belas tahun kemudian???

aku berguman..

empat belas tahun sejak saat itu adalah kegamangan..
bagaimana tidak.. kami masih saja melihat kemiskinan, kelaparan, ketertindasan, ketidak adilan, intimidasi, kekerasan, kebohongan publik dan lainnya yang mungkin bentuk sifat dan caranya tidak selalu sama dengan empat belas tahun yang lalu.. tapi itulah kenyataan saat ini, yang bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri..

beginilah potret negriku sejak Empat Belas Tahun yang lalu..

tidak jauh berbeda..!!!


11 April 2012; jam 1:33
BACA SELENGKAPNYA →

Tiga Jam Dua Belas Menit (10 puisi kosongku untuk Negri)


1. Televisi Merah Biru

duduk bersanding bimbang
menatap kosong kaca jaman
mendengar lantang pecundang
umbar satu kepentingan

jatuhkan pelan pelan..


2. Seperti Badut

lihat wajah lucu
berkata sumbang
tentang janji
tentang Tuhan
dibawah indah kekuasaan


3. Penguasa

ini rakyatmu
injaklah
ini uangmu
ambillah
ini darahmu
hisaplah
lalu pergilah
dengan penuh dosa
dan dendam kami


4. Sang Terbebas dan Sang Terhukum

hanyalah pasal usang
bersembunyi padanya
untuk kebebasannya
..
karena pasal usang
menunjuk padanya
lalu menghukumnya


5. Salahkan

salahkan kamu
salahkan dia
salahkan mereka
kenapa menyalahkan
kenapa disalahkan
..
sebuah keharusan
untuk harga diri
yang sudah mati
..
di mata kami
kau hina


6. Racun

ibu pertiwi lihat anakmu itu

menebar racun ideologi
halalkan yang tak pantas
robohkan satu janji
..
mimpi indah negri


7. Tamak

.. menjadi lumrah
.. menjadi topeng
.. menjadi kebanggaan
.. menjadi satu denganmu
.. setan di kepalamu


8. Sandiwara

apa lagi yang harus kita dengar
persengkongkolan..? kesetiaan..?
..
mereka tak abadi
senyum menjadi awal
dendam berubah senyum
uang menciptakan raja


9. Preman

ada disana.. rejam kelemahan
ada disini.. amuk ke tak berdayaan
mulia disini sebab hanya aku
laknat disana hisap keringat kami
..
dalam gedung mewah hijau
berpestanya laknat yang terlaknat
..
akui saja..


10. Nyanyian Mereka

terdengar walau samar
di antara kemiskinan kami
yang sudah hitam
..
terlihat dengan gagah
angkara murka mereka
nyanyikan bait sukacita
..
ha.. ha.. ha..
ini bagianmu.. mu.. dan mu..
kita diam diam saja..
..
sementara disini..
..
mmmaaaakkkk...
upit lapaaarrr..
--
saabaarrrr...


3 Maret 2012 jam 0:12
BACA SELENGKAPNYA →

Ape Luh Liat Liat !!!


lepas lohor eni bang Jabrik amé Mamat lagi padé nongkrong di pos kamling deket pangkalan ojek kampungnyé.. rupenyé dari roman muké bang Jabrik keliatan lagi kesel, lantaran mukenyé kusut kayé bocah abis digebukin amé emaknyé..
...
"Apé luh liat liat.." bentak bang Jabrik mbari melotot amé orang nyang liwat.
"dasar.." kurang kerjaan luh.." celetuk Mamat mbari ngisep rokoknyé lagi.
"bukan begitu mat.. la pan elu liat kendiri, entu orang kaga ade sopannyé lewat sini.."
"yéé abang.. ini kan jalan umum bang.. siapé ajé boleh seenak pusernyé kalo liwat sini.." saut Mamat sembari milin milin rokoknyé nyang ampir mati apinyé..
"lagian.. urusan ruméééh... abang bawé bawé kesini.. emang empok Siti masih maréh yéé amé abang.." ejek Mamat..
"setan lu mat.. kenape elu nyang rungsing amé urusan gua.. dah ahh gua mao pulang dulu.." katé bang Jabrik ninggalin Mamat nyang masih nyengir nyengir kendiri..
...
Nyampe rumehnye, bang Jabrik lansung ajeé ngeloyor masup kamaryé..
...
"bang.. abaaangg.." teriak mpok Siti dari belakang ruméh.
"iyéé.. kenapé sih luh.. jejoakan ajé kayé soang abis kejebur empang.."
"udéh abang bayarin belon kualinyé.."
"belon.." saut bang Jabrik sedikit kesel. "nah elu.. pegimané sih.. ngambil gituan kagak bilang bilang amé gua, jadinyé pan gua nyang gelagepan wéktu si Udin (tukang kredit. Sus.) nagih amé gua.." celetuk bang Jabrik agak sewot sembari mbenerin peci itemnyé nyang rada miring.
...
"ééhhh.. baaang.. emangnyé abang udéh kagak butuh makan yéé.. saban hari maunyé ngegares nyang enak enak, tapi kagak liat tuuh.. perabotan kité nyang padé rusak.."
"ayé mau masak paké apé baaang.. kalo kagak ngredit dulu entu kuali amé mang Udin.." bales mpok Siti mbari nerusin nyuci baju.
"lagian yéé baang... jaman sekarang ntu udéh lumréh ngredit.. apelagi kité.. entu tuh.. orang orang kayé ajé padé ngredit mobil buat gayé gayéan.. bikin macet jalan ajé.."
"padahal yéé baang.. pemerintéh udéh nyiapin BasWe buat orang orang supayé Jakarté kagak macet lagi.." katé mpok Siti sok tau dikit.
...
"ahhh sok tau luh.." saut bang Jabrik.
"yéé abang dibilanginnyé.." saut mpok Siti mbari ngeloyor masup ruméh ke kamarnyé ninggalin cuciannyé nyang ampir selesé..
"pokoknyé ayé kagak mau tau..!! abang bayarin kagak tuh kualinyé.. kalo kagak , liat ntar malem.. ayé kagak kasih.. biar abang tidur amé nyamuk diluar.."
entu kan udéh kewajiban abang sebagé laki.. kudu nyari nafkah buat anak bini.. nyukupin semué keperluannyé.. bukan cumé urusan gituan doangan nyang abang kasih.." bentak mpok Siti mbari melotot amé lakinyé..
...
rupényé bang Jabrik rada gedér jugé ngeliat bininyé nyang melotot sembari tolak pinggang. Tapi emang dasar bang Jabrik bukan orang nyang panasan kalo liat bini lagi maréh, dié langsung ajé nyelonong masup dapur sembari ngebentak "Apé luh liat liat..!!!" amé kuali nyang ngegantung di dapur rumehnyé..

19 Januari 2012 jam 19:12
BACA SELENGKAPNYA →

Puisi Untuk Kemerdekaan (Celoteh Mafia & Koruptor Tengik)


Wahai belulang yang terkubur di "kejayaan" masa lalu..
Dengarlah ini "nyanyian" kami sebagai anak bangsa..
Lihatlah ini "tarian" kami sebagai putra bangsa..
"Merdeka" hanya untuk kami, tidak untuk mereka..


Kami menari diatas "luka" sang sahaya..
Aroma luka mereka.. harumkan "pesta" kami..
Kami menyanyi diatas "tangis" sang terhina..
isak tangis mereka.. iringi "lelap" kami..


Wahai belulang yang terkubur di "semangat" masa lalu..
Kami hanya ingin terus berpesta disini..
Tanpa setetes keringat rakyat luput aku"teguk"..
dan tanpa lawan yang luput aku "tikam"


Kan ku "rejam" Kawan2ku dengan "suar" bertopeng keadilan..
Sampai terkapar "sendu" di dinding kepongahanku..
Kan ku "usap" Lawan2ku dengan segenggam mahar dunia..
Sampai tersenyum manis di cermin kelicikanku..


Wahai belulang yang terbaring di keridhoan sang Pencipta..
Kini sosokmu hanya menjadi sebingkai hiasan dinding2 sekolah..
Kami takkan melupakan sejarah panjang perjuanganmu..
Tapi kami juga akan terus berpesta di "Kemerdekaanmu"

17 Agustus 2011 jam 16:07
BACA SELENGKAPNYA →

Kamu Tak se Idealis yang Kami Kira



Kamu tak seidealis yang kami kira..
Dia tak seidealis yang kami kira..
Mereka tak seidealis yang kami kira..
Kami tak seidealis yang kami kira..


Idealisme runtuh dengan uang dan kekuasaan..

Klasik..!!


Ingatkah ketika kita sama2 mengangkat kepalan tangan..
Berdiri dan berlari diantara bengis serbuan logam panas..
Berteriak serak menghujat mencaci penguasa negri..


TURUN..!!

TURUN..!!


Yahh.. Perjuangan yang penuh dengan keringat dan Darah..
Bahkan nyawa diantara Kami.. hmmm..

..

Untukmu kawan yang berkubang dikotornya dunia politik !!


Tak perlu kau hargai perjuangan kami..
Tak perlu kau usap tetes darah kami..
Tak perlu kau cari keberadaan kami..
Tak perlu kau tegakkan reformasi dijiwa kami


"Karena Reformasi telah tegak berdiri di hati kami.."


Rakyat hanya topeng perjuanganmu..
Uanglah yang menjadi tuhanmu..
Kekuasaan yang kini memperbudakmu..
Tak ada kawan sejati bagimu..

Yang ada hanya segenggam kepentingan..


Idealisme hanya sebuah dongeng..
yang sempat terkecap dinegri mimpi..
Reformasi menjadi sebait mantra..
Tuk menghindar dari srigala keadilan..

Kamu tak seidealis yang kami kira..


(Untuk Segelintr Alumnus Aktivis Gerakan '98)
(Sus, exp98' UMB Jakarta; 7 Juli 2011 jam 22:02)
BACA SELENGKAPNYA →

Mimpi Anak Negri (April 98)



anak kecil yang duduk di trotoar jalan

memandang kedepan tak mengerti
ke barisan putra-putri ibu pertiwi
yang lontarkan sejuta caci

di hempaskannya tubuh kurus lesu itu
di sandarkannya beban di hati
tuk sesaat nikmati aroma kebebasan
yang hanya ada dalam mimpi

memandang kakak-kakaknya yang berjuang
untuk negri tercinta
memandang slogan-slogan kebenaran
yang tampak sedikit kumal
memandang langkah-langkah kaki berpacu
dengan sekepal angan
memandang wajah-wajah diliputi senyum
yang harapkan keadilan...
yang harapkan keadilan...

diapun tersadar dari lamunannya
untuk turut dalam barisan
sekedar hanya ingin ikut rasakan
perjuangan yang terasa panjang

inspirated in April 1998 (before 13 Mei 98')
Saya tulis kembali (sebagian lupa...) atas Kerinduan akan murninya sebuah gerakan demonstrasi
BACA SELENGKAPNYA →