Untukmu Sahabatku.. Berkuatlah


untukmu.. berkuatlah pada jiwa-jiwa yang telah memastikan dirinya mampu tetap bertahan dalam terpa badai.. dan tiada siapapun dapat menjaminkanmu untuk tetap terpuruk.. ingatlah.. tiada kesedihan tanpa kebahagiaan.. tiada hadir tanpa kepergian.. dan tiada awal tanpa keberakhiran..

seseorang disuatu waktu pernah berkata.. kita tak pernah menanam apa-apa, kita tak pernah kehilangan apa-apa.. entahlah.. pastikanlah bahwa sesungguhnya kita tetap berada dalam keterluasan maafNya, ketika hati telah terjatuh dalam jerat rasa, lalu menolak untuk bertahan dari semua erat kepedihan yang terlampau sulit dipulihkan..

mungkin begitu terbatasnya ruang untuk engkau mampu memandang segala kenyataan dengan mata yang terhalang segala debu.. tapi tidak untuk mencium wangi yang senantiasa terbaca disetiap gerak yang mampu engkau rasakan pada kasatnya.. sesungguhnya kita adalah kelahiran yang terus mencari kesejatian pada kelahiran yang lain..

hadapilah dalam segala keterbatasan yang setiap detik mengikutimu.. tidaklah untuk kehidupan saja kita akan berhadapan dengan begitu beratnya langkah.. tetapi juga untuk Cinta, ketika ia menghampiri lalu engkau mencoba untuk berlepas dengan semua hal yang kau anggap sebuah kesia-siaan..

yakinlah akan berakhirnya semua yang telah engkau alami dihari kemarin.. jika saja Tuhan berkehendak lain, dia tidak akan memberitakan kepadamu ketika engkau terjatuh.. Ia akan meyakinkan diriNya bahwa jiwamu telah siap kembali dan mampu untuk meneruskan perjalanan tanpa derai kecemasan disetiap langkahmu..



4 my friend in SwarnaDwipa, berkuatlah..
30 Januari 2015; Jam 13:10
BACA SELENGKAPNYA →

Segala Pengandaian Ini


anggap saja aku ada disampingmu.. dihadapanmu.. lalu menatapmu tajam, setajam engkau menatap segala diamku saat itu.. mungkin kelak aku tak mampu berkata apa-apa tentang dirimu, ketika tatapan-tatapan kita bersatu dalam genang airmata yang tertahan.. atau ketika kedua tangan kita saling erat tergenggam dalam kerinduan yang tertunaikan..

anggap saja aku mengucapkan sesuatu padamu saat ini.. tentang segala mystery of soul yang sempat diretakkan oleh malam.. tentang keterlengkapan hati kita untuk menghadapi esok dan lusa.. atau kesiapan kita merenggut kembali segala apa yang pernah coba kita sematkan dalam warna-warna pelangi dan meletakkannya dihati kita..

anggap saja kita duduk bersama dalam nuansa remang pada sebuah senja.. dan perlahan membuat kita terhanyut dalam kisah-kisah yang mampu meredakan isak yang mengalir.. lalu kita akan saling bersandar pada bahu-bahu yang telah bersiap sejak segala kata-kata tertumpah pada kalimat kerinduan..

mungkin saja.. segala pengandaian ini akan menjadi sesuatu yang selalu kita ingat dalam kesendirian.. mungkin saja.. segala penganggapan ini akan membuat kita terjebak dalam ada dan ketiadaan yang kekal.. atau mungkin saja.. diantara kita telah menjadikan semua ini kebersamaan yang hanya mampu kita rasakan ketika mimpi-mimpi enggan dikejut-bangunkan..

sayang.. kita tak akan melakukannya.. kelak kita akan mengakhiri segala kemungkinan itu dengan saling menguatkan tentang hati.. tentang cinta.. dan tentang janji..



28 Januari 2015; Jam 17:37
BACA SELENGKAPNYA →

Aku dan Angka-angka Bulan Januari


pada angka-angka terakhir bulan januari.. Aku tak pernah utuh menemui tentang tanpa namamu pada hari-harinya.. dalam kecemasan tentang yang pernah terdengar.. yang pernah terlihat.. dan yang pernah aku rasakan ketika engkau menjawab apa kata hatimu dalam luapan rasa yang selalu kita mengerti..

hingga hari ini..

ketika kehendak kita beranjak dari datarnya ketidak-keinginan untuk berdiam pada ketertutupan.. lalu bercampur dalam binar senyum yang selalu kita pautkan dalam kata yang tersemai disemesta rasa.. kita akan menemui betapa kita tak pernah bisa mengelak pada apa yang telah Tuhan tuliskan..

telah aku sampaikan pada arah yang telah bersiap diri dihadapanku.. bahwasanya aku tak mengenal lagi segala hitam apapun tentangmu.. bahkan ketika esok dan lusa disakit-patahkan "arah" yang berbalik dan tak mengijinkan segala langkah.. aku tetap menantinya, hingga tersembuh-luruskan..

aku dan angka-angka bulan Januari.. menjadi saksi atas sebuah nama..
namamu..

27 Januari 2015; Jam 23:57
BACA SELENGKAPNYA →

Langit Yang Tidak Lagi Bermendung




aku tahu.. kita mengalami hal yang selalu saja sama ketika mengayuh dalam perahu yang bernama kenyataan.. masih saja ada kepak camar yang terdengar, masih saja terpecik tetes gelombang.. masih saja kehilangan arah ketika pekat menutupi mata kompas kerinduan.. dan masih saja melengkapi badai kegetiran ketika diantara kita terpaksa saling mengikhlaskan untuk hal yang sangat kita pahamkan..

kita selalu saja bersiap menurunkan layar untuk mengikuti saja arah angin yang kelak membawa kita pada hal yang pernah kita janjikan.. dan kita mungkin saja pernah berfikir untuk menyegerakan segala tempuhan ini berakhir pada sebuah dermaga yang kelak kita namakan ia "kebahagiaan".. dan beryakin akan menemui kembali riuh lambaian mimpi-mimpi yang sempat kita lepaskan..

kita telah menjadi sesuatu yang dimengerti oleh biru samudra, ketika mereka mengombangambingkan kita pada amuk gelombang tanpa sedikitpun terluka.. dan kitapun kelak akan menemui langit yang tidak lagi bermendung pada akhir tempuhan yang mungkin selalu menguras airmata.. Aku akan berkata.. "Sayang.. lihatlah! kita telah tiba.. pada apa yang pernah kita tujukan, pada apa yg pernah kita harap-doakan.."



25 Januari: Jam 15:39
BACA SELENGKAPNYA →

Menyapamu Dalam Genangan



entah sajak keberapa-kalikah yang sudah aku tuliskan untukmu.. aku bahkan tak mampu menghafalnya satu persatu dalam tiap hujaman rindu yang menyimpuhkanku pada sosok dirimu.. yang aku ingat adalah.. ketika siapa saja diantara kita yang membacanya dalam kepasrahan pada keterbelengguan akan kerinduan, disitulah kita akan dihadapkan kembali pada ketidak mengertinya kita, ketika memilih untuk mengakhiri semua dengan perjalanan ini..

dan ketika hujan malam ini berakhir dengan derai gerimis yang tak juga mulai reda, aku sempatkan untuk sekedar menyapamu pada genangan-genangannya.. yang seketika saja menjelma menjadi sesuatu yang aku kira masih berteguh pada pilar-pilar kepedihan masa lalu.. hingga sampai akhirnya dentang jam yang menunjuk berbisik padaku.. "kau telah aku selamatkan, ketika engkau letih berpegang dari segala apa yang selama ini engkau yakini.. bersetialah dengan hari ini dan esok, niscaya semua akan berakhir sesuai yang kau mau..



23 Januari: Jam 2:05
BACA SELENGKAPNYA →